Seorang yang bijak memohon, “Ajari aku bagaimana caranya belajar dan apa
yang harus dipelajari!” Seorang yang lebih bijak lagi berdo’a, “Izinkan
aku ya, aku ingin sungguh-sungguh belajar bagaimana caranya belajar.”
Kalau anda cukup arif dan bijak, anda akan mencari tahu bagaimana caranya belajar. Tapi kalau anda lebih arif dan lebih bijak lagi, anda hanya akan selalu bersungguh-sungguh untuk belajar. Bagaimana caranya, nysusul belakangan. Yang penting sungguh-sungguh dulu. Tidak ada cara khusus untuk hal itu, kecuali sungguh-sungguh itu sendiri.
Salah satu cara menjadi orang yang bijak adalah dengan banyak belajar
dan dengan bersungguh-sungguh. Ada ribuan orang yang mendahulukan
membaca buku-buku tentang cara-cara belajar, tapi tidak membaca dirinya
sendiri tentang kenapa dia tidak bisa bersungguh-sungguh.
Ada empat level atau golongan dalam mencari ilmu.
Satu, dia yang tidak tahu dan tidak tahu kalau dia sebenarnya
tidak tahu. Nah lho, kebangetan kan. Makanya, level manusia seperti ini
disebut si Bodoh. Anda harus sebisa mungkin menjauhi orang seperti ini.
Nanti ketularan. Bukannya tega sih, tapi orang seperti ini memang tidak
ada untungnya untuk dijadikan teman. Rugi untuk kita, juga rugi untuk
diri dia sendiri. Si Bodoh tidak bisa berguru kepada apa pun dan tidak
bisa belajar kepada siapa pun. Entah itu pada kesungguhan, ataupun
kepada teman, orangtua, apalagi musuh. Si Bodoh akan terus bersekongkol
dengan orang bodoh. Jika sudah bersama orang bodoh, Si Bodoh yang memang
tidak mau tahu itu, akan terus-menerus berbuat buruk, tanpa pernah mau
tahu kalau perbuatannya itu tidak pantas dilakukan.
Dua, dia yang tidak tahu, tetapi tahu kalau dia sebenarnya tidak
tahu. Yang ini sedikit lebih baik. Orang ini disebut si Pencari. Nah,
kalau anda tidak mau dicap tegaan, lebih baik berteman dengan orang
seperti ini. Bimbing, kalau bisa ajari dia. Kasihan kan kalau dia
semangat sekali ingin tahu sesuatu, tapi tidak ada yang membimbing.
Lagipula dalam Islam pun kalau anda punya ilmu, tidak boleh
disembunyikan. Betul kan? Karena tahu betul betapa sedikit ilmu dan
kemampuannya, Si Pencari ingin sekali berguru kepada siapa saja. Dia
tidak pernah alergi dan tidak malu bertanya. Si Pencari selalu
bersungguh-sungguh. Nah, kalau anda kebetulan menjadi temannya, ajak dia
untuk bisa belajar dari apa dan siapapun, juga jangan lupa ajari dia
untuk bisa belajar dari musuh-musuhnya, atau berguru kepada sesuatu yang
tidak dia sukai. Tombol motivasi dlaam dirinya harus anda hidupkan.
Biarkan dia terus termotivasi untuk belajar dan belajar.
Tiga, dia yang tahu tapi tidak tahu kalau dia sebenarnya tahu.
Orang seperti ini disebut si Tukang Tidur. Yang namanya tukang tidur,
haurs sering-sering dibangunin. Maksudnya, anda harus sering menyadarkan
dia tentang hal-hal yang dia lupa, padahal dia tahu dan dia bisa. Si
Tukang Tidur bisa belajar dari apapun darn dari siapapun, tapi dia
sering lalai untuk mengajarkan kembali ilmunya. Memberikan motivasi
kepada manusia jenis ini pun bisa dengan cara memotivasinya, tapi juga
bisa dengan menginsafkan dia akan kemampuannya yang terpendam. Ingatkan
dia tentang kesalahannya menyembunyikan ilmu. Sadarkan dia bahwa orang
yang punya ilmu itu akan mendapat bencana kalau tidak memanfaatkan
ilmunya secara baik dan benar.
Empat, dia yang tahu dan tahu bahwa dia tahu. Nah, ini namanya
orang yang paling bijak. Tidak usah ragu dan tanggung, cepat-cepat ikuti
dan dekati dia. Tapi, orang pintar biasanya sombong dan tidak mau
dijadikan teman. Jadi... bagaimana ya? Orang bijak itu bukan hanya
pintar. Kalau orang pintar itu bisa dibilang baru setengahnya, yang
utuh, itu baru namanya orang bijak. Orang yang hanya bisa memecahkan
soal Fisika atau Kalkulus, dia orang pintar, tapi belum tentu bisa tahu
bagaimana caranya menghargai perasaan teman. Nah, yang bijak itu utuh.
Selain bisa berhitung, dia juga bisa bergaul dengan benar. Lagipula
kalau dia sombong, berarti dia tidak pantas ada di level keempat.
Artinya, dia belum tahu diri. Mungkin pantasnya malah di level satu,
walaupun nilai Kalkulusnya dapat sembilan. Lho, kenapa? Kan, nilai
sembilan itu berarti sangat pintar? Masa sih hanya di level satu?
Percuma nilai akademis anda bagus, kalau ternyata anda tidak tahu
bagaimana caranya menjadi manusia yang benar. Dan, yang lebih parah,
anda tidak tahu kalau anda tidak tahu cara menjadi manusia yang benar.
Orang sombong itu orang yang tidak tahu caranya menjadi manusia yang
benar dan dia tidak tahu kalau dia tidak tahu. Renungkan lagi deh,
berkali-kali.
Eittss, tapi tunggu dulu! Ini tidak bermaksud mengajarkan anda untuk tidak peduli dengan nilai akademis, lho. Mungkin lebih bagus lagi kalau nilai akademis anda sembilan dan tidak sombong. Benar kan?
Sekarang renungkan lagi. Cari tempat untuk menyendiri selama lima belas menit. Tapi, jangan melamun. Lalu, tanya dirimu sendiri pertanyaan-pertanyaan ini:
Apa yang sudah aku tahu? Dan, Apa yang nggak aku tahu?
Oke. Selamat menjawab.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dikutip dari buku Nyari Identitas Diri Karangan M. Ikhsan Hal. 65-69 dengan perubahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar